Advertisement
Kamis, 09 September 2010
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Home arrow Indeks Berita arrow Kasus Pesta Seks Siswi SMP
Kasus Pesta Seks Siswi SMP
Selasa, 28 Oktober 2008
Dahlan Segera Pertemukan PHRI dan PGRI
BATAM CENTRE - Walikota Batam Ahmad Dahlan, dalam waktu dekat, akan memfasilitasi pertemuan antara PHRI dan PGRI. Upaya itu dilakukan untuk menindaklanjuti kasus pesta seks siswa SMP di hotel 'Sing', Jodoh.
Dahlan menilai kasus tersebut sangat memalukan. Ia juga sangat prihatin atas kejadian tersebut sehingga merasa perlu mempertemukan wadah pengusaha hotel dengan wadah guru. "Saya akan mempertemukan PGRI dan PHRI untuk menyelesaikan permasalahan itu," katanya.

Walikota juga menuntut pertanggungjawaban moral pengelola hotel karena tidak mengawasi setiap tamu yang menginap. Dahlan terlihat tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan itu. "Cari untung silakan. tapi, tolong dong dijaga dan diawasi ," kata Dahlan, Senin (27/10) di Politeknik Batam usai acara penyerahan SK bagi 542 CPNS di lingkungan Pemko Batam.   

Kabid Sarana dan Objek Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam H Marzuki menegaskan pihaknya telah melakukan sidak serta pengawasan terhadap hotel 'S', tempat ketiga siswi melakukan pesta seks. Dalam pengawasan tersebut, pihaknya telah memberi ultimatum dan meminta pihak hotel benar-benar mengawasi pengunjung. "Kita sudah panggil pemilik hotel dan mebeberkan seluruh ketentuannya. Kita akan lakukan pengawasan. Kalau tidak dilakukan, diberi surat peringatan atau izinnya dicabut," ujarnya.  

Marzuki mengakui selama ini pihak hotel tidak melakukan pengawasan terhadap tamu yang menginap. Seperti meminta KTP ataupun kartu identitas lainya. "Mereka hanya memberikan kunci saja kepada tamu yang menginap," kata Marzuki.

Bukan Kasus Biasa

Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam Irlan Gusti mengatakan dengan kejadian tersebut, dunia pendidikan di Kota Batam telah tercemar. Para orang tua dan guru diminta untuk lebih intens menanamkan pesan-pesan moral kepada si anak. "Kasus ini tidak bisa dianggap sepele karena sudah menyangkut soal moralitas pelajar. Ini bukan kasus biasa, dan ini sudah menjadi persolan kita bersama," katanya.

Para orang tua, kata Irlan, perlu lebih tegas dalam mengawasi aktivitas anak di luar rumah. Kendati demikian, ketegasan yang diberi juga jangan sampai menimbulkan tekanan kepada si anak. Tetapi, harus ada keseimbangan karena orang tua juga berperan sebagai teman bicara saat anak ingin mencurahkan perasaan hatinya. Demikian juga dengan sekolah, harus ada keseimbangan antara pendidikan dengan kebijakan moralitas.

Irlan kurang setuju dengan anggapan bahwa hal itu dipicu maraknya akses internet dan film porno. Menurutnya, hal itu tidak dapat dijadikan ukuran terhadap terjadinya dekadensi moral. "Tinggal bagaimana karya tekhnologi tersebut dimanfaatkan dengan sebaiknya guna menambah wawasan atau ilmu-ilmu yang positif. Di sinilah peran orang tua, guru serta lingkungan untuk menuntun dan membimbing mereka. Jangan terus dilarang," katanya.

Di Batam ini, kata Irlan, lingkungan sangat mendukung terjadinya kasus free sex karena segala macam hiburan dan fasilitas tersedia. Hal itu diperparah tingkat sosialisasi antar masyarakat sepertinya mulai luntur. "Banyak di antara kita yang tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Ini yang terkadang membuat para remaja bisa melakukan perbuatan sesuka hatinya," kata Irlan.

Lingkungan, ujar Irlan, sudah sepantasnya ikut memainkan peran di dalam mencegah terjadinya dekadensi moral di kalangan remaja terutama para siswa. Para pengusaha seperti warnet dan hotel atau penginapan, seharusnya bisa dan punya niat untuk melakukan penolakan terhadap upaya dari para remaja atau siswa yang ingin memanfaatkan jasa mereka untuk melakukan kegiatan amoral.

"Jadi bukan hanya orang tua dan guru yang berkepentingan. Pengusaha, pemerintah dan dewan sendiri juga sebenarnya punya tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan moral ini. Pemerintah sebaiknya memberi teguran kepada pengusaha penginapan yang membiarkan anak-anak sekolah menginap di tempat mereka tanpa alasan yang jelas," imbuhnya. (sm/yr/ik)


 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
copyright © sijorimandiri.net 2005 - 2008