|
Rabu, 19 Mei 2010 |
|
Rasa Kebangsaan
by. Johni F
Sekelompok remaja tertawa cekikitan sambil menikmati potongan pizza hut yang renyah. Juice strauberry melengkapi suasana ceria di salah satu franchise di kawasan foot street Nagoya Hill. Seorang remaja berpakaian teng top dan celana leging ketat juga tengah sibuk mengotak-atik handphone blackberry. Di meja lain juga tampak dua remaja sedang asyik facebook-an dengan laptop merk Acer warna pink.
Melihat gaya remaja di atas, mengingatkan saya dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang akan diperingati bangsa ini, tanggal 20 Mei besok. Muncul pertanyaan, apakah masih ada rasa kebangsaan itu ? Rasa yang dulunya digelorakan oleh Budi Utomo dan kawan-kawan dalam menentang dan melawan penjajahan Belanda. Hingga, para pemuda-pemudi dari berbagai suku, golongan dan agama menyatakan kebulatan tekad untuk bersatu di bawah naungan Bhineka Tunggal Ika. Bila remaja hanya kenal Resto cepat saji, semisal Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donald's, Dunkin Donuts, Texas Chicken, A&W, dan Hoka Hoka Bento serta aneka produk-produk asing, apakah masih pantas rasa nasionalisme didengung-dengungkan. Mungkin mereka akan bengong dan tertawa jika diceritakan kisah heroik gerilya jendral Sudirman yang mengkonsumsi ikan asin,kangkung sawah,singkong,gethuk,tiwul dan jajanan pasar yang menjadi ciri khas bangsa ini. Bahkan, mendengar lagu-lagu kebangsaan dan lagu daerah mungkin sudah asing di telingga mereka. Seyogyanya, momentum Harkitnas bukan hanya sekedar ritual dan tanggal catatan sejarah tanpa ada makna dan penggugahan rasa nasionalisme dalam diri masing-masing anak bangsa. Padahal, situasi sulit saat Budi Utomo membangkitkan semangat kebangsaan tahun 1908, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Dimana, berbagai persoalan masih melingkupi hampir seluruh sendi kehidupan; sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan pelbagai sendi kehidupan lainnya yang semakin menambah panjang derita bangsa ini. Persoalan-persoalan sosial seperti kerusuhan, kriminalitas, pengangguran, perjudian dan prostitusi, serta berbagai masalah sosial lainnya menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat negeri ini. Di bidang budaya, krisis moralitas juga semakin menggejala. Melalui Hardiknas, mungkin ada baiknya setiap individu bertanya dalam diri masing-masing, apakah semangat kebangsaan itu masih ada terselip dalam hati ? Atau rasa nasionalisme hamburger memang telah mendarah daging. *** |