Home Indeks Berita PDAM Tirta Kepri, Antara Ada dan Tiada
|
PDAM Tirta Kepri, Antara Ada dan Tiada |
|
Senin, 03 Mei 2010 |
PERGANTIAN Direktur PDAM Tirta Kepri ternyata belum berdampak pada perbaikan manajemen dan pelayanan kepada pelanggan. Masyarakat merasakan kehadiran PDAM Tirta Kepri antara ada dan tiada. Direktur PDAM Tirta Kepri Abdul Khalik Pazdawani, sejak dilantik beberapa bulan lalu hingga saat ini tampaknya masih kesulitan untuk memulihkan kondisi PDAM yang pada dasarnya memang dalam kondisi bobrok, dililit hutang serta manajemennya amburadul.
Tidak hanya itu, perkakas di tubuh PDAM juga dalam kondisi yang tidak prima. Seperti mesinnya suda tua serta pipa-pipa HDEP (pipa utama) yang pemasangannya tidak sempurna, sehingga berulangkali terjadi kebocoran disana-sini. Adapun yangmenjadi masalah utama adalah menyangkut stok air baku yang berada di waduk Sei Pulau. Semakin bertambahnya pelanggan PDAM di Pulau Bintan, dengan kondisi waduk yang standar, sudah tentu tidak akan mampu memberikan pelayanan yang sempurna. Apalagi kondisi waduk yang hanya berstatus tadah hujang tersebut, jika seminggu saja tidak diguyur hujan, maka akan menyusut dengan drastisnya. Bahkan berulangkali pipa intake yang ada tak sanggup lagi menyentuh sisa-sia air yang berada ditengah waduk. Alhasil pelayanan menjadi terkendala. Bagaimanapun kondisi PDAM saat ini, keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Terutama bagi perumahan-perumahan yang tidak memiliki sumur sendiri. Oleh sebab itu pula, akan menjadi tugas PDAM untuk segera membenahi diri serta memaksimalkan pelayanan kepada pelanggannya. Untungnya masalah air sekarang tidak lagi hanya menjadi permasalahan PDAM semata, melainkan juga masalahnya Pemerintah Provinsi Kepri dan dewan. Namun sepertinya kedua lembaga tersebut juga merasa kesulitan dalam mengatasi 'jasad' PDAM yang sakit-sakitan. Bahkan, untuk kondisi waduk, meskipun selalu diguyur hujan namun masih sempat minus hingga 80 centimeter (cm). Hal tersebut terjadi pada seminggu terakhir Maret. Kondisi itu, lebih parah dibanding seminggu sebelumnya yang hanya minus 65 cm. Melihat kondisi waduk yang semakin kritis tersebut, Pemprov, Dewan dan PDAM sempat menggelar rapat dengan direktorat air minum Pekerjaan Umum di Jakarta. Dengan tujuan utamanya mencari solusi atas kondisi waduk yang nyaris tidak mampu melayani jumlah pelanggan yang semakin banyak di Tanjungpinang saat ini. "Sekarang jumlah pelanggan resmi kita di Tanjungpinang saja mencapai 17 ribuan. Untuk pelanggan yang tidak resmi sekarang sedang kita tertibkan. Untuk sementara sudah kita dapati sebanyak sekita 300 pelanggan illegal. Selanjutnya pelanggan-pelanggan yang illegal tersebut akan kita legalkan. Kita juga masih mencari sejumlah pelanggan lainnya yang ternyata illegal," kata Abdul Khalik kepada Sijori Mandiri beberapa waktu lalu. Menurut Abdul Khalik, yang menjadi penyebab Sei Pulai tidak sanggup melayani pelanggan, karena jumlah pelanggan terus bertambah, baik yang legal maupun illegal. "Insya Allah di jaman saya ini tidak ada lagi penambahan pelanggan yang illegal, justru akan kita bersihkan semua. Sehingga kita bisa mengetahui kekuatan air kita untuk melayani jumlah pelanggan yang terdaftar kedepannya," ujar Khalik. Adapun solusi yang dibahas didalam pertemuan di Jakarta saat itu, menurut Khalik diantaranya menyangkut pembuatan waduk baru untuk jangka panjang, dan menjadikan Sungai Gesek sebagai sumber alternatif pemasok air ke Sei Pulai untuk jangka pendeknya. Sedangkan anggota komisi III DPRD Kepri yang ikut dalam rapat pembahasan air di kantor Direktorat PU pusat saat itu diantaranya Rudi Chua, Abdul Aziz, Dalmasri Syam, Suryani, Onward S, Yudi Charsana serta asisten II Pemprov Kepri Nuraida Mochsen. Anggota DPRD Kepri Rudi Chua menambahkan, dalam pertemuan tersebut juga disepakati bahwa prioritas untuk membuat masterplan air baku pulau Bintan dengan bantuan tim dari ITB. "Waktu itu rapat kemarin dipimpin langsung oleh Dirjen Cipta karya PU Bapak Tamin Zakaria. Mereka juga setelah itu sudah meninjau lokasi waduk Sei Pulai dan kondisinya," kata Rudi Chua.**
Air Sei Pulai Keruh dan Berbau
Dalam pantauan yang dilakukan di lapangan oleh anggota DPRD, Pemprov dan dari Dirjen PU, didapati kondisi air di waduk Sei Pulai sama sekali tidak memuaskan. Meski secara kauntitas debit air di Waduk Sei Pulai mengalami penambahan, namun secara kualitas akhir-akhir ini mengalami penurunan. Bahkan didapati airnya keruh dan berbau. Hal ini seperti yang disampaikan anggota DPRD Provinsi Kepri Rudi Chua kepada Sijori Mandiri, Jumat (30/4) kemarin. Karena kondisi tersebut, Rudi berharap hal ini akan menjadi perhatian khusus pihak PDAM. Yakni segera mengembalikan kualitas air yang tidak bisa dikonsumsi oleh masyarakat itu secepatnya. Jika ternyata PDAM belum mampu memulihkan kondisi kualitas air waduk, maka PDAM diimbau agar segera membuat pengumuman melalui media untuk memberitahukan kepada masyarakat akan kondisi air yang sebenarnya saat ini. "Kondisinya sekarang memang seperti itu, agak keruh dan berbau. Tadi kita turun ke lapangan bersama orang PU dan PDAM sendiri. Kalau dilihat dari kondisi airnya, sementara ini air PDAM tidak bisa untuk keperluan konsumsi. kalau digunakan untuk mencuci mungkin bisa, tapi sebaiknya diendapkan terlebih dahulu," kata Rudi seraya menghimbau kepada masyarakat Tanjungpinang. Masih menurut Rudi, jalur pelayanan PDAM sepanjang Batu 5 hingga Batu 12 mengalami pemadamn total. Namun mengingat keberadaan air sangat diperlukan oleh masyarakat, maka dengan keadaan air yang ada tersebut tetap dialirkan. "Sebenarnya sempat akan diberhentikan saja sementara pelayanan air oleh PDAM mengingat kondisi air yang keruh dan bau itu. Namun setelah diakukan berbagai pertimbangan akhirnya tetap dinyalakan. Namun, masyarakat harus menerima keadaan air yang seperti itu," kata Rudi lagi. Dari hasil kunjungan tim ke lapangan kemarin, menurut Rudi, berubahnya kualitas air menjadi keruh dan bau karena dampak dari pengerjaan fisik di area waduk untuk meningkatkan kuantitas air. "Pengerjaan fisik di sekitar waduk tujuannya juga untuk memperbaiki kuantitas air yang ada. Namun, bagaimanapun juga telah disepakati agar pihak PDAM membuat pemberitahuan kepada masyarakat melalui media yang ada," katanya.**
Dewan Tantang PDAM Gunakan Teknologi Baru
Wakil Ketua III DPRD Provinsi Kepri, Ing Iskandarsyah, menyatakan keraguannya atas kualitas air bersih yang diproduksi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri. Untuk itu, dia menantang Direktur PDAM Tirta Kepri untuk dapat menemukan teknologi baru dalam mengelola air bersih bagi masyarakat di Pulau Bintan. "PDAM Tirta Kepri saya nilai sangat tidak berkualitas dalam mengelola air bersih bagi masyarakat Kepri, dan ini dapat kita lihat air minum yang diproduksi oleh PDAM bagi masyarakat tidak nyaman untuk dikonsumsi rumah tangga dan lainnya. Karena selama ini tidak ada jaminan apakah air itu sudah bebas dari kuman dan telah dikelola dengan baik atau," tegas Politisi PKS tersebut. Menurutnya, PDAM Tirta Kepri mestinya dapat membuat terobosan baru dan langkah cerdas dalam mengelola air bersih yang akan disalurkan kepada masyarakat di Bumi Segantang Lada ini dengan minimnya daratan. Tentunya harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah guna memenuhi kebutuhan pokok air bersih agar kehidupan masyarakat Kepri lebih terjamin kesehatannya. "Perlu ada pemikiran cerdas dalam menangani air bersih di Bumi Segantang Lada ini, dengan kondisi lautan lebih luas dibanding daratan. Untuk itu, perlu langkah konservasi sumber air tawar dalam rangka melestarikan lingkungan berkelanjutan. Hal ini tentunya dapat merancang sejak dini penggunaan air laut agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat Kepri,"papar Iskandar yang sempat delapan tahun menetap di Belanda. Dikatakan, Kepri diketahui dengan 97,65 persen laut dan 2,35 persen daratan harus mengambil manfaat besar dari kondisi ini, sehingga imbuhnya, bisa meningkatkan nilai ekonomis lautnya dalam menopang kesejahteraan hidup rakyat dalam penyediaan air bersih. Menurutnya, dengan pemanfaatan air laut sebagai air bersih maka cadangan air tawar di dalam tanah akan meningkat dan kelestarian lingkungan akan lebih terjamin. Untuk itu lanjut dia, sudah saatnya, Kepri dapat mengembangkan teknologi RO dalam rangkat memnanfaatkan konservasi air laut menjadi air bersih dan dapat langsung dikonsumsi oleh rakyat layaknya di daerah lain yang sudah menerapkan sistem RO dalam pengelolaan air laut. Dengan sistem tersebut paparnya maka masyarakat Kepri dapat terhindar untuk mengkonsumsi air tecemar . "Satu hal yang penting dari data yang saya miliki, hasil pemurnian air laut dengan metode RO ini telah memenuhi standar air bersih menurut WHO. Dan tentunya ini harus mendapat dukungan dari semua pihak untuk menciptakan generasi Kepri lebih sehat ke depan, karena selama ini tidak ada jaminan air Produksi PDAM Tirta Kepri aman dikonsumsi dan terhindar dari zat berbahaya akibat tecemar,"pungkasnya. Dihubungi terpisah Direktur PDAM Tirta Kepri Abdul Khalik, mengakui mengapresiasi wacana yang diluncurkan oleh Wakil Ketua III DPRD Kepri tersebut, namun imbuhnya program itu masih harus didudukkan kembali dengan menimbang dari semua aspek. Dikatakan, prinsipnya sangat penting dan harus ada sumber air baku yang baru, untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Kepri khususnya di Pulau Bintan sendiri. Menurutnya, selama ini sudah merancang apabila diterapkan pengelolaan air laut, dan sementara ditemukan bahwa biaya produksi mulai per kubiknya mencapai 8 ribu hingga 9 ribu. Sehingga apabila ini diterapkan maka harga beli masyarakat akan makin tinggi, meskipun harus diakui belum mencapai harga beli masyarakat untuk membeli air dalam tangki seperti selama ini di Kota Tanjungpinang. "Rencana tersebut tentu sudah dipikirkan, namun untuk masuk dalam program jangka menengah karena yang harus dipikirkan saat ini bagaiman air waduk di Sungai Pulai dapat kembali normal untuk melayani masyarakat. Dan Alhamdulillah dalam proyek APBN telah disetujui untuk melakukan perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAK) yang selama ini mengisi waduk Sei Pulai," tegasnya sambil mengatakan memang untuk jangka panjang harus ada sumber air baru, Dalam kesempatan itu, Khalik juga mengakui apabila dikatakan tidak ada jaminan aman apabila air yang selama ini diproduksi oleh PDAM Tirta Kepri, dari logam bahaya dan pencemaran lainnya, namun sampai saat ini baru ini yang dapat dilakukan dan untuk program jangka panjang tentu harus ada ide baru demi perbaikan konsumsi air bagi masyarakat Kepri. ** |
|