|
Senin, 08 Pebruari 2010 |
 Biarkan Tundra Beberapa hari lalu saya pernah mengunduh sebuah foto burung elang laut di jejaring sosial pertemanan Facebook. Foto itu memperlihatkan kegagahan seekor burung elang yang disebut juga Elang Dada Putih (komentar Pak Ria Saptarika), sedang melayang di atas air di Seiladi menangkap ikan di muara sungai.
Sungguh sebuah foto keberuntungan atau 'Lucky Shoot' saat itu, karena momen tersebut sangat cepat. Dari delapan foto yang diabadikan oleh kecanggihan kamera dengan fitur Continous Shoot delapan frame perdetik itu hanya jadi satu frame saja yang berkualitas cukup baik. Ketika mengunduh foto itu di FB dan mendapatkan komentar yang sangat memuaskan dari teman-teman membuat saya semakin tertarik untuk memotretnya. Akhirnya keesokan harinya saya kembali di tempat semula. Namun betapa kagetnya saya, di spot (tempat) elang yang selalu berkelompok tiga hingga 1o ekor itu ternyata telah dipasangi jaring ikan yang cukup rapat. Jaring itu dipasang membelah anak sungai dan dililitkan di antara pepohonan bakau yang subur di tempat itu. Melihat pemandangan itu, saya sontak kaget dan menyimpulkan bahwa ada orang-orang yang ingin menangkap elang tersebut dan kemungikan akan dijual. Kenapa masih ada orang-orang yang ingin menangguk keuntungan dari harmonisasi alam tersebut. Kenapa sang elang itu tidak dibiarkan saja menukik menangkap ikan di sungai, meliuk di angkasa menambah indahnya hutan Seiladi itu. Karena jika para penangkap burung itu berhasil menjaring sang elang tentu saja akan merusak ekosistem alam di sekitar hutan mangrove yang kian terkuras oleh reklamasi yang dilakukan oleh pengembang. Biarkanlah si burung elang itu bebas mencari mangsa, menambah keindahan alam kota ini. |