Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Home arrow Berita arrow Andi Tolak Minta Maaf
Andi Tolak Minta Maaf
Sabtu, 04 Juli 2009
JAKARTA-Meski menuai protes keras, Juru Bicara Kepresidenan yang juga anggota tim sukses pasangan SBY-Boediono, Andi Alfian Mallarangeng bersikeras tidak mau minta maaf terkait pernyataannya yang dinilai berbau SARA dan melukai hati warga Sulawesi Selatan (Sulsel).  Ia menilai pernyataannya sudah tepat.

"Saya tidak melihat ada yang salah dalam pernyataan saya," tegas Andi saat mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima Perhimpunan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di kediaman pribadinya Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Jumat (3/7).

"Tak mungkin saya melecehkan orang saya sendiri. Tidak mungkin saya mendiskriminasikan orang sekampung saya sendiri karena saya bagian dari masyarakat Sulsel," kata Andi yang Bugis asli ini.

Ketua DPP Partai Demokrat ini pun merasa pernyataannya saat menyampaikan orasi politik di hadanan sekitar 1.000 orang yang memadati kampanye pasangan SBY-Boediono di GOR Mattoangin, Makassar, Rabu (1/7) lalu, telah dipelintir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Konteks pernyataan saat itu, kata Andi, ia hanya berbicara dengan orang-orang sekampungnya agar mereka merasa merdeka memilih apa yang dianggap terbaik.

"Dan bagi saya yang terbaik itu SBY-Boediono. Tentu saya mengimbau warga Sulsel memilih yang terbaik, yaitu SBY-Boediono. Memang kemudian ada beberapa kata saya yang dipelintir, seakan-akan saya mengatakan bahwa orang Sulsel tak pantas jadi presiden. Atau seakan-akan orang Sulsel belum bisa jadi presiden," jelasnya.

Soal munculnya reaksi keras di Makassar atas pernyataannya, Andi mengaku bukan sekali ini saja hal itu dialaminya. "Saya memang mendengar ada reaksi-reaksi yang cukup keras di Makassar, ada yang mengharamkan saya kembali ke Makassar, tapi sebelum itu pun sudah ada. Ada yang menganggap saya pengkhianat. Bukan orang Sulawesi, karena saya tidak mendukung capres Pak JK yang berasal dari Sulsel," jelasnya.

Menurut Andi, justru dengan orasi politiknya itu, dia ingin membuka pikiran orang-orang Sulsel. "Pilihan politik tak harus sama dengan suku," tambah dia.

Ditanya reaksi SBY atas kontroversi yang muncul terkait dengan pernyataannya, Andi mengatakan,"Dia mengangguk-angguk saja."

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Hadi Utomo menyatakan tidak akan memberikan sanksi kepada Andi terkait pernyataannya. PD memilih melakukan pendekatan kepada kelompok yang merasa tersinggung. Pendekatan akan dilakukan secepatnya sebelum hari pencontrengan pada 8 Juli mendatang. “Kita akan lakukan pendekatan dari partai. Dalam waktu yang luang nanti kita akan segera kondisikan," katanya.

Menurut dia, pernyataan Andi itu tidak bermaksud merendahkan. Ia menilai hal ini adalah bagian dinamika politik yang wajar. Jika ditanggapi terlalu serius justru membuat suhu politik semakin panas. "Ini kan menjelang ketika suhu politik makin panas jangan terlalu membesarkan. Tidak ada perbedaan itu,” katanya.

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Hasanuddin Masaille juga meminta masyarakat khususnya warga Sulsel agar menyikapi secara arif dan bijaksana pernyataan Andi. "Pernyataan Andi Mallarangeng perlu disikapi secara kekeluargaan dan secara ilmiah dalam forum ilmiah, sehingga dapat segera dicari jalan keluarnya agar tidak terulang lagi pernyataan tersebut," katanya di Jakarta.

Masaille menegaskan, fakta menyatakan semua etnis di Indonesia pantas menjadi pemimpin atau presiden, termasuk suku Bugis. "Ketiga capres dan cawapres merupakan putra terbaik yang pantas memimpin bangsa Indonesia, karena mereka telah melalui proses pendidikan politik dan menempati berbagai jabatan penting sebelumnya," katanya.

Tuntut Dicopot

Sementara itu hingga kemarin, aksi mengecam pernyataan Andi terus berlanjut di Makassar. Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Makassar membakar boneka Andi saat menggelar aksi demo di gerbang tol Refomasi. Selain maaf, dalam aksinya mereka juga menuntut SBY mencopot Andi dari jabatannya sebagai Juru Bicara Kepresidenan. "Sudah banyak alasan untuk SBY memecat Alfian dari timnya dan meminta maaf pada masyarakat Sulsel," kata koordinator aksi Andi Ayayup.

Tak kurang dari Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin juga meminta kepada Andi Alfian untuk menarik ucapannya dan meminta maaf kepada masyarakat Sulsel. "Saya tidak tahu apa yang menjadi landasan dari Pak Alfian karena itu diucapkan dalam konteks politik, tetapi pernyataannya itu bisa membuat orang Sulsel tersinggung," ujar Ilham yang juga Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel ini.

Kantor DPD Partai Demokrat Sulsel juga dijaga ketat satu peleton aparat Polda Sulsel karena karena dikhawatirkan jadi obyek kemarahan massa mengecam pernyataan Andi.

Sehari sebelumnya, sejumlah rektor dan budayawan Sulsel meminta Andi menyatakan permohonan maaf dan mencabut pernyataannya. JK sendiri saat debat capres putaran terakhir juga bereaksi keras dengan menilai pernyataan rasialis seperti itu sebaiknya tidak keluar dalam pesta demokrasi.

Partai Golkar juga menuntut Andi Mallarangeng segera minta maaf. "Kalau sempat diucapkan seperti itu, sebaiknya Pak Andi segera menyampaikan permintaan maaf," kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono.

Anggota tim sukses JK-Wiranto, Indra Piliang menilai pernyataan Andi justru menjatuhkan SBY. "Ini akan menjadi bola salju kekalahan SBY di daerah lain, apabila terus dikatakan demikian. Bisa saja besok bilang begitu di Bali, Sumatera, dan Jawa timur, terus siapa yang jadi presiden kalau begitu?," kata Indra.

Pengamat politik dari LIPI Syamsudin Haris juga sependapat pernyataan Andi bisa menjadi blunder bagi SBY. Ia mengatakan SBY harus memaksa Andi meminta maaf jika tidak ingin suaranya terus menyusut. (sm/dtc/vv/ant)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
copyright © sijorimandiri.net 2005 - 2008